Saya masih ingat pelajaran hadis dari Guru saya di Muallimin. Namanya Ustad Isra. Beliau ustad yang beneran galak karena sayang. Tipikal ustad yang kurang disukai santri pas mondok, tapi ketika si santri jadi alumni, hampir semua bilang “Beruntungnya saya dulu diajar oleh beliau.” Atau dalam kasus saya, “Beruntungnya saya dulu, karena berkali-kali mendapatkan bapak asrama seperti beliau”. Tegas dan disiplinya bukan main.
Dan ketika pelajaran hadis, ini salah satu pelajaran yang saya masih ingat dan saya amalkan sampai sekarang, yaitu Hadis “Ghurran Muhajjalin”.
Kalau wudhu, usahakan wudhunya dipanjangkan. Karena bekas wudhu, akan menjadi cahaya di hari kiamat kelak. Kalau anda wudhu ketika habis mandi misalnya, basuh bagian tangan hingga ke ketiak atau bagian kaki hingga ke paha atas. Biar cahayanya di akhirat nanti “full body”. Itu ajaran beliau.
Dan dari hadis ini pula, ketika mengajarkan ke murid ngaji saya, saya merasa kurang pas kalau bagian rambut hanya minimalis sebagaimana dalam Madzhab Syafii, yaitu hanya sebagain kepala. Atau bahkan saya pernah lihat hanya “ditunyuk-tunyuk” sedikit bagian rambut. Takutnya besok di hari kiamat cuma kelap-kelip kaya kunang-kunang. Hahaha.
Tentu itu sah dalam Madzhab Syafii. Dan komentar saya cuma guyon ilmiah saja













