Jika membaca HR Bukhari 144, ternyata diperbolehkan buang air kecil dan besar menghadap kiblat, dengan syarat ada pembatasnya. Di masa sekarang ya seperti toilet pada umumnya. Buang air menghadap kiblat ini baru menjadi larangan ketika kita buang hajat di tempat terbuka seperti hutan, sungai, kebun dll. Dimana hal ini maklum dilakukan di zaman Nabi Muhammad Saw.
Tapi meskipun di dalam toilet, sebaiknya memang dihindari si. Bukan karena fikih, tapi lebih pada etika.
Bunyi Hadis:
١٤٤ – حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ: حَدَّثَنَا ابۡنُ أَبِي ذِئۡبٍ قَالَ: حَدَّثَنَا الزُّهۡرِيُّ، عَنۡ عَطَاءِ بۡنِ يَزِيدَ اللَّيۡثِيِّ، عَنۡ أَبِي أَيُّوبَ الۡأَنۡصَارِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِذَا أَتَى أَحَدُكُمُ الۡغَائِطَ، فَلَا يَسۡتَقۡبِلِ الۡقِبۡلَةَ وَلَا يُوَلِّهَا ظَهۡرَهُ، شَرِّقُوا أَوۡ غَرِّبُوا). [الحديث ١٤٤ – طرفه في: ٣٩٤].
144. Adam telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Ibnu Abu Dzi`b menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Az-Zuhri menceritakan kepada kami dari ‘Atha` bin Yazid Al-Laitsi, dari Abu Ayyub Al-Anshari. Beliau mengatakan: Rasulullah—shallalalhu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Apabila salah seorang kalian buang air, jangan menghadap kiblat dan jangan memunggunginya. Menghadaplah ke timur atau barat!”
NB:
Tulisan diatas adalah pendapat pribadi yang saya pahami ketika membaca Sahih Bukhari. Penomoran hadis diambil dari Kitab Sohih Bukhari, akan tetapi judul dalam blog ini kadang sama dan sering berbeda dengan judul yang dibawakan oleh Imam Bukhari dan Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.














