Anda pernah dengar bahwa menabur bunga di kuburan itu bid’ah? Saya pernah. Katanya si karena ndak ada hadisnya untuk menabur bunga. Dulu sekali, saya percaya saja. Sekarang tentu tidak. Itu bukan bid’ah, dan bahkan bisa dikatakan ada hadisnya. HR Bukhari 216.
Ceritanya, Rasul mendengar ada kuburan dua orang yang disiksa. Satu karena suka gosip berujung adu domba (namimah). Satunya lagi karena mereka menyepelekan hal² dalam buang air kencing (tidak menutup diri atau tidak bersuci).
Dalam hadis itu, Rasul meminta daun pelepah kurma dan dibagi dua untuk masing² kuburan. Dan berdoa “semoga azab mereka diringankan hingga daun ini mengering”.
Tentu analoginya adalah, di Arab ada pohon kurma, maka di Indonesia kita pakai yang ada di Indonesia. Anda bisa pakai rumput, daun kelapa, daun sawit, atau tentunya bunga² sebagaimana adat di Indonesia. Tapi kan itu mubazir? Mahal lagi? Ya kalau itu berarti subjektif. Mahal menurut anda, belum tentu mahal menurut yang lain. Kadang cara mikirnya “daripada repot² memotong dahan yang ujung²nya jelek, mending tinggal bayar, cantik lagi”.
Jika anda tanya, apa hubunganya daun kurma yang belum kering dengan diringankan azab? Maka jawabanya, saya ndak tau. Ibnu Hajar tidak menjelaskan juga.
Apapun itu, yang jelas jangan suka gosip dan waspada dalam masalah buang air kecil. Keduanya bisa mengakibatkan kita mendapatkan siksa kubur. Wa iyyadzubillah.
Bagaimana bunyi hadisnya?
٢١٦ – حَدَّثَنَا عُثۡمَانُ قَالَ: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنۡ مَنۡصُورٍ، عَنۡ مُجَاهِدٍ، عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ قَالَ: مَرَّ النَّبِيُّ ﷺ بِحَائِطٍ مِنۡ حِيطَانِ الۡمَدِينَةِ، أَوۡ مَكَّةَ، فَسَمِعَ صَوۡتَ إِنۡسَانَيۡنِ يُعَذَّبَانِ فِي قُبُورِهِمَا فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ) ثُمَّ قَالَ: (بَلَى كَانَ أَحَدُهُمَا لَا يَسۡتَتِرُ مِنۡ بَوۡلِهِ، وَكَانَ الۡآخَرُ يَمۡشِي بِالنَّمِيمَةِ)، ثُمَّ دَعَا بِجَرِيدَةٍ فَكَسَرَهَا كِسۡرَتَيۡنِ فَوَضَعَ عَلَى كُلِّ قَبۡرٍ مِنۡهُمَا كِسۡرَةً، فَقِيلَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللهِ لِمَ فَعَلۡتَ هَٰذَا؟ قَالَ: (لَعَلَّهُ أَنۡ يُخَفَّفَ عَنۡهُمَا مَا لَمۡ تَيۡبَسَا) أَوۡ إِلَى أَنۡ يَيۡبَسَا.
[الحديث ٢١٦ – أطرافه في: ٢١٨، ١٣٦١، ١٣٧٨، ٦٠٥٢، ٦٠٥٥].
216. ‘Utsman telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Jarir menceritakan kepada kami dari Manshur, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas. Beliau mengatakan: Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melewati salah satu kebun Madinah atau Makkah. Beliau mendengar suara dua manusia yang sedang diazab di dalam kubur mereka.
Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Keduanya sedang diazab dan mereka tidak diazab dalam perkara yang besar (untuk ditinggalkan).” Kemudian beliau bersabda, “Ya, dahulu salah satu dari keduanya tidak bertabir ketika buang air, sedangkan yang lain mengadu domba.”
Kemudian beliau minta sebatang pelepah kurma lalu mematahkannya jadi dua. Beliau meletakkan satu patahan di atas setiap kuburan keduanya. Ada yang bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan ini?”
Beliau menjawab, “Semoga azab keduanya diringankan selama kedua pelepah ini belum kering atau sampai kedua pelepah ini kering.”

NB:
Tulisan diatas adalah pendapat pribadi yang saya pahami ketika membaca Sahih Bukhari. Penomoran hadis diambil dari Kitab Sohih Bukhari, akan tetapi judul dalam blog ini kadang sama dan sering berbeda dengan judul yang dibawakan oleh Imam Bukhari dan Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.














