Dalam Madzhab Syafii (mohon koreksi kalau salah) teman saya dulu pernah bilang bahwa kalau wudhu jangan memasukan tangan ke gayung. Airnya harus mengalir.
Kenapa harus begitu?
Ada konsep namanya air musta’mal (air bekas). Nah, kalau ada gayung berisi air suci lalu anda masukan tangan anda ke dalam gayung, maka air di gayung itu statusnya jadi air bekas. Karena sudah terpakai. Makanya kalau di kampung dulu, biasanya di kamar mandi ada ember cat yang dilubangi. Biar ketika wudhu, airnya mengalir.
Nah air bekas ini hukumnya suci, tapi tidak bisa mensucikan. Mirip lah seperti air sirup marjan dicampur es batu. Meski segernya minta ampun, tapi anda g bisa berwudhu pakai air ini.
Tentu ini adalah ijtihad kalangan Syafi’iyah (dan jika salah, mohon saya dikoreksi). Sah-sah saja sebagi ijtihad. Tapi ketika saya dengar penjelasan teman saya, saya cuma bisa berkomentar bahwa ini berat sekali. Belum lagi kalau ketika wudhu ada air bekas wudhu terciprat masuk ke dalam gayungnya. Musta’mal lagi itu.
Nah kemudian saya membaca HR Bukhari nomer ke 199. Dan dalam riwayat ini narator hadis menjelaskan bahwa nabi memasukan tanganya ke dalam taur (wadah). Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. Nah saya jadi bingung. Gimana teman² Syafiiyah memandang hadis ini?
Hadisnya berbunyi:
١٩٩ – حَدَّثَنَا خَالِدُ بۡنُ مَخۡلَدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا سُلَيۡمَانُ قَالَ: حَدَّثَنِي عَمۡرُو بۡنُ يَحۡيَى، عَنۡ أَبِيهِ قَالَ: كَانَ عَمِّي يُكۡثِرُ مِنَ الۡوُضُوءِ، قَالَ لِعَبۡدِ اللهِ بۡنِ زَيۡدٍ: أَخۡبِرۡنِي كَيۡفَ رَأَيۡتَ النَّبِيَّ ﷺ يَتَوَضَّأُ؟ فَدَعَا بِتَوۡرٍ مِنۡ مَاءٍ، فَكَفَأَ عَلَى يَدَيۡهِ، فَغَسَلَهُمَا ثَلَاثَ مِرَارٍ، ثُمَّ أَدۡخَلَ يَدَهُ فِي التَّوۡرِ، فَمَضۡمَضَ وَاسۡتَنۡثَرَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنۡ غَرۡفَةٍ وَاحِدَةٍ، ثُمَّ أَدۡخَلَ يَدَهُ فَاغۡتَرَفَ بِهَا، فَغَسَلَ وَجۡهَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَيۡهِ إِلَى الۡمِرۡفَقَيۡنِ مَرَّتَيۡنِ مَرَّتَيۡنِ، ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِهِ مَاءً فَمَسَحَ رَأۡسَهُ، فَأَدۡبَرَ بِهِ وَأَقۡبَلَ، ثُمَّ غَسَلَ رِجۡلَيۡهِ فَقَالَ: هَٰكَذَا رَأَيۡتُ النَّبِيَّ ﷺ يَتَوَضَّأُ. [طرفه في: ١٨٥].
199. Khalid bin Makhlad telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Sulaiman menceritakan kepada kami. Beliau berkata: ‘Amr bin Yahya menceritakan kepadaku dari ayahnya. Beliau berkata: Dahulu, pamanku sering berwudu. Beliau berkata kepada ‘Abdullah bin Zaid, “Bagaimana engkau melihat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berwudu?”
Beliau minta sebaskom air lalu beliau tuangkan ke kedua tangannya. Beliau membasuhnya tiga kali. Kemudian beliau masukkan tangannya ke baskom, lalu berkumur dan mengeluarkan air yang dimasukkan ke hidung sebanyak tiga kali dari satu cidukan tangan. Kemudian beliau memasukkan tangannya lalu menciduk lalu membasuh wajahnya sebanyak tiga kali. Kemudian beliau membasuh kedua tangannya sampai siku dua kali-dua kali. Kemudian beliau mengambil air dengan tangannya dan mengusap kepalanya. Beliau usapkan ke belakang dan ke depan. Kemudian beliau membasuh kedua kakinya.

NB:
Tulisan diatas adalah pendapat pribadi yang saya pahami ketika membaca Sahih Bukhari. Penomoran hadis diambil dari Kitab Sohih Bukhari, akan tetapi judul dalam blog ini kadang sama dan sering berbeda dengan judul yang dibawakan oleh Imam Bukhari dan Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.














