Ketika baca hadis Bukhari ke 198 ini saya sempat tertawa sendiri. Anda tahu kenapa?
Kalau anda baca ada peristiwa unik di dalamnya. Dimana Sayyidah Aisyah mengatakan “Ketika Rasulullah sakit keras, ada dua laki-laki yang memapah beliau. Yaitu Abbas dan “Rajulin Akhar”. Nah, narator hadis bertanya kepada Ibnu Abbas “siapa Rajulin Akhar” ini. Kenapa sayyidah Aisyah tidak menyebut namanya seperti nama Abbas disebut. Ibnu Abbas menjawab bahwa orang itu adalah Ali RA. ![]()
Anda tahu kenapa Sayyidah Aisyah g nyebut nama Ali secara langsung?
Usut punya usut, beliau berdua ini (Sayyidah Aisyah RA dan Ali RA) memang punya relasi layaknya umumnya mertua-menantu. Hate-Love relationship. Dan wallahi, saya tidak menulis ini untuk menghinakan beliau. Naudzubillahiminzalik. Tapi justru untuk menunjukan kepada kita semua, bahwa role model kita itu manusia. Manusia biasa. Bukan superhuman. Bukan Malaikat Jibril. Beliau punya masalah layaknya manusia. Tapi karena dididik oleh nabi maka tahu mana batas-batasanya. Termasuk bagaiamana cara Islami memperlakukan keluarga yang tidak kita sukai. (Note: Salah satu bukti kehebatan Islam adalah, kaya gini aja ada aturanya).
Bagaimana kita tahu hate-love relationship ini terjadi? Ada beberapa kasus, misalnya hadis ifki, dimana Ali tidak membela Aisyah, justru memberi komen “saya tidak tau, tapi wanita kan banyak”.
.
Cerita lainya, Ali RA adalah suami Fatimah RA, anak dari Sayyidah Khadijah RA. Dan Sayyidah Aisyah, cemburunya minta ampun sama Sayyidah Khadijah. Bayangkan cemburu sama orang yang sudah meninggal. Itu beraattt. Bahkan saking cemburu dan sebelnya, Sayyidah Aisyah pernah mengeluarkan kata-kata yang tidak layak (tapi dimaafkan) yang membuat tidak hanya Fatimah, tapi Nabi Muhammad tidak suka.
Salah satu komentar yang terekam dalam hadis adalah, Sayyidah Aisyah berkomentar “Aku lebih hebat dari Khadijah, karena aku perawan dan dia janda”.
Fatimah membela ibunya “Ibuku janda, tapi dapat (Nabi Muhammad waktu masih) perjaka. Sayyidah Aisyah perawan, tapi dapat duda”.
That is just, wooooooaaa…..!
Pelajaran apa yang bisa kita ambil teman-teman?
1. Ternyata sebel sama mertua/ menantu itu ada sanadnya ya. Hahha.
2. Meskipun begitu, kita harus belajar bagaimana supaya hate-love dalam keluarga kita ini terkelola dengan baik dan profesional. Tetap berbuat adil kepada meskipun kita tidak suka.
3. Dan dari sini kita tahu bahwa Nabi dan para sahabat generasi pertama itu manusia biasa. Bukan superhuman. Anda bilang wali juga gpp. Tapi tetap manusia. Dan kalau anda baca hadis kok terlihat ada hubungan hate-love relationship, ya wajar-wajar saja. Anda g perlu membela beliau seolah mereka nggak mungkin salah. Justru dengan tahu bahwa ada cerita-cerita seperti ini kita bisa nyambung dengan kehidupan generasi terbaik dan menjadikan mereka percontohan. Dengan anda membela seolah itu g mungkin terjadi, anda justru menghilangkan aspek kemanusiaan (humanity) dari para sahabat. Dan, kalau aspek kemanusiaan ini hilang dan anda jadikan mereka seolah “superhuman”, maka anda nggak akan bisa relate dan menjadikan mereka percontohan. Karena anda manusia biasa dan mereka manusia luar biasa. Gimana mencontohnya?
Dengan kesadaran seperti ini, maka maklumi juga kalau ustad atau kyai kita itu kadang (kadang loh ya) marah sama istri, atau Nyai marah sama Kyai, bapak dimarahi anak, menantu g suka sama mertua atau sebaliknya. Biasa aja. Itulah drama dunia kawan. Tapi yang jelas, kelola perasaan itu agar kita tidak zalim kepada siapapun. Termasuk yang tidak kita sukai.
Hadisnya berbunyi:
١٩٨ – حَدَّثَنَا أَبُو الۡيَمَانِ قَالَ: أَخۡبَرَنَا شُعَيۡبٌ، عَنِ الزُّهۡرِيِّ قَالَ: أَخۡبَرَنِي عُبَيۡدُ اللهِ بۡنُ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ عُتۡبَةَ، أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتۡ: لَمَّا ثَقُلَ النَّبِيُّ ﷺ وَاشۡتَدَّ بِهِ وَجَعُهُ، اسۡتَأۡذَنَ أَزۡوَاجَهُ فِي أَنۡ يُمَرَّضَ فِي بَيۡتِي، فَأَذِنَّ لَهُ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ ﷺ بَيۡنَ رَجُلَيۡنِ تَخُطُّ رِجۡلَاهُ فِي الۡأَرۡضِ، بَيۡنَ عَبَّاسٍ وَرَجُلٍ آخَرَ، قَالَ عُبَيۡدُ اللهِ: فَأَخۡبَرۡتُ عَبۡدَ اللهِ بۡنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ: أَتَدۡرِي مَنِ الرَّجُلُ الۡآخَرُ؟ قُلۡتُ: لَا، قَالَ: هُوَ عَلِيٌّ. وَكَانَتۡ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا تُحَدِّثُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ بَعۡدَ مَا دَخَلَ بَيۡتَهُ وَاشۡتَدَّ وَجَعُهُ: (هَرِيقُوا عَلَىَّ مِنۡ سَبۡعِ قِرَبٍ لَمۡ تُحۡلَلۡ أَوۡكِيَتُهُنَّ، لَعَلِّي أَعۡهَدُ إِلَى النَّاسِ). وَأُجۡلِسَ فِي مِخۡضَبٍ لِحَفۡصَةَ زَوۡجِ النَّبِيِّ ﷺ، ثُمَّ طَفِقۡنَا نَصُبُّ عَلَيۡهِ مِنۡ تِلۡكَ الۡقِرَبِ، حَتَّى طَفِقَ يُشِيرُ إِلَيۡنَا: أَنۡ قَدۡ فَعَلۡتُنَّ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى النَّاسِ.
[الحديث ١٩٨ – أطرافه في: ٦٦٤، ٦٦٥، ٦٧٩، ٦٨٣، ٦٨٧، ٧١٢، ٧١٣، ٧١٦، ٢٥٨٨، ٣٠٩٩، ٣٣٨٤، ٤٤٤٢].
198. Abu Al-Yaman telah menceritakan kepada kami. Beliau berkata: Syu’aib mengabarkan kepada kami dari Az-Zuhri. Beliau berkata: ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah mengabarkan kepadaku bahwa ‘Aisyah mengatakan:
Ketika Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—merasakan berat dan parah sakitnya, beliau meminta izin istri-istrinya agar dirawat di rumahku, maka mereka mengizinkan beliau. Lalu Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—keluar diapit dua orang dengan melangkahkan kedua kakinya di tanah, yaitu di antara ‘Abbas dan seorang pria lain.
‘Ubaidullah berkata: Aku mengabarkan kepada ‘Abdullah bin ‘Abbas lalu beliau bertanya, “Apakah engkau tahu siapa pria yang lain itu?”
Aku menjawab, “Tidak.”
Beliau mengatakan, “Dia adalah ‘Ali.”
Ketika itu ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—menceritakan bahwa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda ketika sudah masuk rumahnya dan sakitnya tambah parah, “Tuangkan air kepadaku dari tujuh kantong air yang ikatannya belum dibuka, semoga aku bisa memberi wasiat kepada manusia.”
Lalu beliau didudukkan di ember milik Hafshah istri Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Kemudian kami mulai menuangkan air dari kantong-kantong itu kepada beliau hingga beliau memberi isyarat kepada kami bahwa kalian telah melakukan (yang diperintahkan). Kemudian beliau keluar menemui manusia.

NB:
Tulisan diatas adalah pendapat pribadi yang saya pahami ketika membaca Sahih Bukhari. Penomoran hadis diambil dari Kitab Sohih Bukhari, akan tetapi judul dalam blog ini kadang sama dan sering berbeda dengan judul yang dibawakan oleh Imam Bukhari dan Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.














