Dari dulu saya yakin sekali bahwa yang disembelih dalam cerita Kurban adalah Nabi Ismail, tanpa mempertanyakan darimana sumbernya. Ustadz dan Khatib Idul Adhanya juga selalu bilang begitu, ya udah diterima saja. Di era modern pendapat “Nabi Ismail” ini sangat masyhur sampai ketahap “siapapun yang berkata selain Nabi Ismail, maka dia sesat”. Pendapat ini seolah sudah menjadi akidah resmi (orthodox). Siapa yang beda, dia sesat. Dan kasus ini pernah terjadi di Arab Saudi ketika ada Syekh Maghomisi berpendapat “Nabi Ishaq”. Bahkan disesatkan oleh banyak pelajar Islam. Disinilah letak sialnya, ketika kita TIDAK diajarkan bahwa ada pendapat yang lain, maka apapun yang diajarkan kepada kita, akan kita anggap sebagai ortodoksi.
Untuk tahu mengenai perbedaan ini, sebenarnya kita tinggal membaca turats para ulama. Dan mulai dengan pertanyaan-pertanyaan seperti “apakah ada tafsir yang lain? Sejak kapan tafsir ini muncul? Sejak kapan tafsir ini booming? Dan yang terpenting, apa tafsir yang masyhur di generasi awal Islam?”
Tapi, sebelum masuk ke sana, perlu kita pahami juga bahwa dalam dunia akademik dikenal istilah “evolution of idea” atau “development of idea”. Intinya, ide itu berkembang dan bahkan berubah. Maka jangan heran jika ada ide yang berbeda dan berkembang di kalangan umat Islam atau dikalangan satu madzhab sekalipun. Se-kekeuh apapun kita ber-madzhab, kita harus menyadari bahwa dalam madzhab kita, ide itu juga bisa berevolusi.
Lalu siapa yang disembelih? Ishaq? Atau Ismail?
Premis awal
Perlu diketahui, bahwa tidak ada teks sorih (sejauh yang saya ketahui) baik dari Quran maupun Hadis yang menjelaskan “siapa yang disembelih”. Yang ada hanya hint atau petunjuk yang sifatnya multitafsir. Ayat Quran dalam Surat Ash-Shaffat (101-102) hanya menceritakan:
“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar (bi ghulamin halim). Maka tatkala anak itu sampai pada umurnya dan berjalan bersama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu…” (QS Ash-Shaffat: 101-102).
Nah, pertanyaanya adalah siapa “ghulamin halim” ini?
Siapa Bilang Apa?
Believe it or not, di generasi awal Islam, pendapat paling masyhur adalah Nabi Ishaq. Terlalu banyak raksasa dari kalangan sahabat, tabiin, dan taba’-tabiin yang memegang pendapat ini. Sahabat Abbas, Ibnu Abbas, Umar, Ibnu Umar, Ali, Utsman, Ibnu Mas’ud, Jabir ibn Abdillah, dan Abu Hurairah. Generasi berikutnya? Juga terlalu banyak yang mengatakan hal ini, Mujahid, Zuhri, Qatadah, Malik bin Anas, al-Muqatil, Thabari, dsb.
Lalu siapa yang menyebut Ismail? Ada. Tapi sedikit sekali. Uniknya, selain sedikit, pendapat ini juga diklaimkan kepada 3 sahabat yang memiliki pendapat pertama, yaitu Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Ibnu Umar. Adapun untuk generasi berikutnya ada nama seperti al-Kalbi dan Hasan al-Basri.
Tapi somehow, di era modern ini, pendapat yang masyhur justru “Nabi Ismail”. Jadi ada satu titik dalam sejarah dimana pemahaman muslim mengalami pergeseran besar (big-shift) dari Nabi Ishaq menjadi Nabi Ismail. Bahkan Gus Baha pernah memberi komentar (saya paraphrase), sebenarnya yang disembelih adalah Nabi Ishaq, tapi karena mayoritas sudah percaya bahwa yang disembelih Nabi Ismail, ya saya ikut saja. Biar tidak bikin ramai.
Apa argumenya?
Ada banyak argumen, tapi inti argumen bagi penganut Ishaq adalah:
1. Kalimat “fa-basyarna” (kabar gembira) dalam Ash-Shafaat 101, dimana “kabar gembira” adalah julukan untuk Ishaq ketika Malaikat mengabarkan kepada Nabi Ibrahim dan Sarah, sebagaimana dalam Surat Hud: 71.
2. Kalimat “maka tatkala anak itu sampai pada umurnya dan berjalan bersama Ibrahim…” mengindikasikan bahwa si anak tumbuh bersama Ibrahim. Sebagaimana kita tahu, Ismail tidak tumbuh bersama Ibrahim.
Adapun argumen pembela Ismail adalah:
1. Dalam Surat Hud: 71 ada ramalan bahwa Ibrahim akan memiliki Ishaq, dan dari Ishaq akan ada Ya’qub. Maka tidak masuk akal, jika Allah justru menyuruh Ibrahim menyembelih Ishaq. Tapi pendapat ini dibantah mudah dengan “lah darimana kamu tahu bahwa Ya’qub belum lahir? Toh Ishaq sudah baligh ketika itu?
2. Ada hadis “aku (Muhammad) adalah anak dari dua dzabihah (yang dikurbankan)”. Maksudnya yang pertama adalah Abdullah bin Abdul Muthallib yang pernah akan dikurbankan, dan yang kedua adalah Nabi Ismail. Masalahnya, hadis ini tidak sohih. Dan kita tidak bisa menggunakan hadis yang kredibilitasnya dipertanyakan untuk perkara akidah.
The development of idea
Lalu apa hubunganya dengan “the development of idea”? Anda sendiri bisa melihat bahwa mayoritas muslim di awal generasi berpendapat Ishaq. Sedangkan generasi sekarang berpendapat Ismail. Idea berkembang dan berubah. Ada titik dimana ide “Ismail” menjadi gelombang pasang. Kapan itu terjadi? Adalah Ibnu Taimiyah yang mengkampanyekan ide tersebut dengan massif (meskipun ide Ismail ini sudah ada jauh sebelumnya). Tentu bukan beliau sendiri, tapi dibantu oleh murid-murid loyalnya, Ibnu Qoyyim dan Ibnu Katsir. Dan siapa yang tidak pernah mendengar nama Ibnu Katsir di Indonesia? Tafsirnya-pun hampir ada di semua rumah di Indonesia sebagai rujukan berbagai kajian. Barangkali bisa dikatakan, berkat Ibnu Katsir, yang tidak suka dengan Ibnu Taimiyah-pun, dalam hal ini harus ikut arusnya Ibnu Taimiyah. Dan dari sinilah the inception of idea (awal mula ide) tentang Ismail itu berkembang massif hingga sekarang.
Saking kekeuh-nya terhadap pendapat ini, bahkan para ulama ini (Ibnu Taimiyah dkk) mengatakan pendapat “Ishaq” adalah pemalsuan yang dimasukan Ahlu Kitab karena mereka iri terhadap status Ismail. Karena bagaimanapun Ismail adalah kakek-moyangnya orang Arab dan Nabi Muhammad. Bukan kakek moyang orang Yahudi.
Nah masalahnya, mereka yang mengatakan “Ismail” tidak jarang juga lebih senang dengan pendapat ini, murni karena Ismail adalah kakeknya Nabi Muhammad. Jadi mereka menggunakan argumen “mahabbah” untuk membenarkan opini mereka. Argumen yang sama, yang dituduhkan Ibnu Taimiyah kepada Ahlu Kitab. Apakah salah? Tidak sepenuhnya salah, tapi tentu tidak ilmiah. Biasnya terlalu ketara. (Note: Sedikit berbeda topik, tapi disinilah menjadi salah satu sudut serang orientalis terhadap pendapat banyak ulama Muslim “anda terlalu bias ketika berbicara mengenai Islam dan Nabi Muhammad. Cinta anda mengkaburkan objektivitas.”).
Lalu Kenapa kalau Bukan Ismail?
Ya tidak ada masalah. Inti dari tulisan ini bukan saya setuju dengan “Ismail“ atau “Ishaq“. Terkesan saya setuju dengan Ishaq, tapi ya tidak juga. Baik yang meyakini Ishaq atau Ismail menurut hemat saya tidak akan menambah atau mengurangi Iman anda. Toh keduanya Nabi pilihan. Ini bukan tulisan “pembangun iman”, tapi lebih kepada “analisis kritis“. Secara personal saya menulis ini karena penasaran dan ingin membagi rasa penasaran saya. Saya sebar di medsos, dengan harapan menyumbang daya kritis (critical thinking) kita dalam beragama. Sebagaimana yang saya tuliskan di awal, mereka yang yang tidak diajarkan perbedaan pendapat, maka apapun yang diajarkan kepadanya, akan dianggap sebagai ortodoksi (ajaran resmi yang paling benar). Dan jika sudah dianggap sebagai ortodoksi, dia akan mudah menyesatkan pendapat yang lain. Padahal ya, karena kita kurang baca saja. Atau mungkin tidak mau menerima kenyataan bahwa ide itu ternyata berevolusi.
Nah, tulisan saya selesai disini. Somehow, saya yang nulis, merasa tulisan saya di atas sedikit anti-klimaks. Tapi ya sudahlah. Anyhow, kira-kira ide apalagi ya yang ber-evolusi di kalangan Muslim? Atau dalam madzhab fikih dan aqidah? Atau jangan-jangan banyak ide yang berevolusi juga di Tarjih Muhammadiyah yang baru 100 tahun ini.
Nb: Banyak dari tulisan ini teinspirasi dari ceramah Yasir Qadhi.













