September kemarin adalah bulan dimana seorang Syuhada digantung. Omar Mukhtar. Si Singa Padang Pasir. Jika ada satu film yang harusnya anda tonton, maka tontonlah Film Omar Mukhtar. Anda bisa menyaksikanya di Youtube. Termasuk film pertama (tahun 1981) yang masuk ke box office Amerika yang menceritakan Islam dengan sudut pandang positif.
Dia berperang melawan rezim Fasis Italia selama 20 Tahun secara Gerilya. Ketika itu Italia dipimpin oleh Sang Fasis Musolini yang menjajah Libya. Utusan Musolini ketika itu bernama General Gratziani. Salah satu pencetus ide concentration camp di Libya dengan korban yang begitu banyak. Dunia berbicara soal concentration camp-nya Nazi? Well, lihat yang mereka lakukan di Libya. Brutal!
Uniknya dari perjuangan beliau adalah, perlawananya terhadap Gratziani dan Musolini, justru mendapat pertentangan dari kalangan Ulama sendiri. Percaya tidak percaya, beberapa kelompok agama (saya tidak tega mau menyebutkan nama kelompoknya), mendukung pemerintahan Musloini dengan dalih agama dan meminta Omar Mukhtar untuk menyerahkan diri. Anda tidak percaya? Itu belum selesai, bahkan ketika Musollini datang ke Italian-Libya (ya, Libya pernah punya nama resmi Italian-Libya), dia disambut bak pahlawan oleh “ulama“, diberi pedang simbolik, dan mendapat julukan “Protector of Islam“! (Anda bisa lihat di Youtube).
Kenapa saya ceritakan ini? Orang Indonesia mempunyai kecenderungan hitam-putih ketika membaca sejarah dan melihat kehidupan. Menurut saya, salah satu penyebabnya adalah sinetron yang dikonsumsi. Seni (dalam hal ini sinetron) mempengaruhi cara pikir dengan cara yang sangat halus. Bahkan kita cenderung tidak sadar atas pengaruh ini. Contohnya, sinetron Cinderella, beauty and the beast, putri tidur, dll membuat wanita yang tumbuh mengkonsumsinya selalu berkhayal bahwasanya semua wanita layak diperlakukan seperti Cinderella. Laki-laki harus memperjuangkan, berperang, dan meromantisasi mereka, sampai mati jika perlu.
Lalu bagaimana dengan sinetron Indonesia? Sinetron Indonesia mempengaruhi kita untuk berfikir bahwa manusia di dunia ini hanya ada dua model. Manusia baik sebaik malaikat dan manusia jahat sejahat Iblis. Hitam dan Putih. Itu saja. Padahal kehidupan selalu warna-warni dan kompleks. Orang baik ada jahatnya, orang jahat ada baiknya.
Balik ke cerita Omar Mukhtar, begitu juga perjuanganya di Libya. Maka jangan heran jika ada ulama justru membungkuk kepada kezaliman. Bisa jadi itu murni ijtihad politiknya, bisa jadi memang tergoda karena dunianya. Semua itu mungkin saja. Biar Allah yang mengadili.
Tapi apapun itu, keberanian Umar Mukhtar sekarang mendapat hasilnya. Seluruh dunia mengenalnya. Harum hingga sekarang. Karena dia terlihat tulus ingin memperjuangkan hak rakyatnya yang telah dicuri. Tapi ulama yang memberikan segala macam penghormatan kepada Musolini, bahkan sejarah-pun tak mau menuliskanya. Bahkan kita yang membaca pun malu mendengarnya. Kalau mencari namanya, hanaya untuk mengatakan “Oh, ini orang yang mengkhianati bangsanya!“
Pertanyaan untuk kita, apa yang sejarah akan tulis mengenai anda? Berdiri memperjuangkan apa yang benar? Atau tertulis sebagai penjilat pada kezaliman? Jangan jadi yang kedua.
Nb: Photo adalah photo dimana Omar Mukhtar tertangkap dan akan dieksekusi. Bahkan orang-orang dan Jenderal Italia sekalipun ingin berfoto karena memang segan dan hormat kepadanya.













