4000 orang datang memenuhi panggilan Muslim mengepung benteng Gubernur. Ibnu Ziyad sadar, dia tidak bisa menghadapi mereka. Lalu dia memakai taktik “divide et impera” alias lobi tingkat tinggi. Dia melihat dari 4000 pasukan itu dan melobi masing² suku dengan berbagai iming² agar meninggalkan Muslim. Harta, tahta, dan rayuan orang tua.
Imam Thabari bilang bahwa Ibu akan merayu anaknya “sudah ada pasukan banyak. Udah kamu pulang aja gpp”. Atau bapak akan mengancam, jika Yazid marah dan mengirim pasukan Damaskus, kalian bisa apa? Ali saja “imbang” lawan pasukan Damaskus. Apalagi cuma Husein yang belum punya kekuasaan.
Taktik Ibnu Ziyad berhasil. Pagi mengepung dengan 4000 pasukan, dan di depan matanya ribuan orang itu bubar hingga ketika shalat asar hanya 70 orang. Ketika magrib tinggal 30. Malam datang, sisa 10 orang. Dalam kemarahanya, dia memutuskan kembali ke Suku Kindah. Di perjalananya, 10 orang ini menyelinap pergi di gelap malam. Tak tersisa satupun. Muslim diam sendiri tanpa membawa makanan, uang, dan kendaraan. Terkhianati oleh 12.000 orang Kufah.
Dia kelaparan dan terpaksa mengetuk pintu rumah ibu tua. Meminta makan. Sang ibu mengira Muslim adalah pengemis memberinya makan. Sang ibu merasa risih karena Muslim tetap di depan rumahnya. Lalu mengusirnya. Sampai akhirnya Muslim mengatakan “Aku Muslim bin Aqil. Tolong bantu saya”.
Sang ibu kaget dan merasa iba. Muslim diajak masuk ke rumah untuk berteduh. Paginya, anak laki² dari si ibu datang dan bertanya, siapa laki² di rumah itu.
Sang Ibu bilang “Dia Muslim bin Aqil. Tolong jangan kamu laporkan ke Gubernur. Kasihan dia”.
Tapi, si anak tergiur dengan iming² uang yang ditawarkan Ibnu Ziyad dan melaporkan Muslim.
Pasukan Ibnu Ziyad datang mengepung rumah. “Menyerahlah, kalau tidak akan kami bakar rumah ini”. Muslim tidak punya pilihan. Dia tidak mungkin membiarkan rumah si Ibu yang menolongnya dibakar. Dia keluar, menyerah, dan ditangkap. Menuju kematianya. Muslim bin Aqil, anak dari sepupu Rasulullah, menjadi korban pertama dari cerita Syahidnya Husein.
Cerita ini terjadi, ketika Umat Islam masih memiliki Khalifah. Sadari satu hal teman, ada Khalifah, bukan berarti dunia ini akan menjadi surga!














