Debat panas soal “bentuk Allah” ini sudah eksis sejak 1100 tahun yang lalu. Dan somehow, banyak ustad yang dalam opini saya “naif” seolah perdebatan ini akan selesai di tangan mereka. Saya yakin bahwa para ustad ini ikhlas dan ingin mendakwahkan kebenaran. Masalahnya adalah kita sebagai muslim punya isu lebih real di depan mata daripada membangkitkan permasalahan yang terjadi (literally) lebih dari 1000 tahun yang lalu.
Saya tidak mempertanyakan keikhlasanya dalam memperjuangkan Islam, tapi jelas, saya mempertanyakan kebijaksanaannya.
Aqidah Asyari dan Athari ini secara dasar saja sudah berbeda. Ibarat tempe dan tahu. Memang sama-sama dari kedelai. Tapi prosesnya sangat jauh berbeda. Nah uniknya, kedua kelompok ini berdebat soal makanan otentik. Yang satu pake standar tempe, sedangkan yang satu pake standar tahu.
Analogi pelari
Salah satu pertanyaan 1 milyar dollar dalam kajian Islam adalah “sampai sejauh mana kita menggunakan akal dan teks”. Wahyu sudah selesai. Teks sudah ditangan dan tidak akan bertambah. Tapi akal masih bisa melanglang buana.
Ibarat lomba lari, jika teks hanya membawa kita sampai 100 meter, tapi akal mampu sampai 200 meter, maka siapa yang ngalah? Teks yang dipaksa maju dengan berbagai tafsirnya, atau akal yang harus mundur?
Ini lagi-lagi pertanyaan dasar.
Dalam pemahaman saya, Athari (salafi) bilang, teks yang diunggulkan. Akal harus mundur teratur.
Tapi Asy’ari bilang, teks harus ditafsirkan. Apa gunanya akal kalau tidak dipakai? Teks diajak lari ke 200 meter. Tentunya dengan pedoman “selama tidak menyalahi inti dari teks, maka teks boleh dibawa lari hingga 200 meter sekalipun.”
Problemnya adalah, Athari mau-maunya ikutan lari 200 meter. Kenapa problem? Karena ushul (pondasi akidah) mereka sendiri tidak memperbolehkan lebih dari 100 meter. Ushul Athari itu berhenti di maxim “istiwa ma’lum, wa kaifiyatuhu majhul, wal iman bihi wajib, wa sual anhu bid’ah” (Istiwa itu diketahui, tapi caranya majhul, mengimaninya wajib, dan bertanya soal itu bid’ah). Maka stop disini! Kalau ada pertanyaan “bagagaimana istiwa atau tangan Allah” Athari seharusnya tegas bilang “Stoooooop bang. Wa sual anhu bid’ah”. Bertanya saja bid’ah. Apalagi menjawab.
Nah masalahnya, banyak ustad salafi kepalanya gatel kalau seolah nggak bisa bersaing dengan Asy’ari. Akhirnya, ketika mereka ikut lari dengan ritme Asy’ari. Munculah paham aneh, Allah besarnya sekian, bentuknya seperti ini, bahkan saya pernah dengar ada yang mencoba menghitung berat Allah. Subhanallah.
Padahal kalau mereka mau pakai doktrin Athari dan stop di maxim mereka, itu sudah pas dan enak untuk awam. Simple.
Nah untuk Asyari, ya silahkan diteruskan. Karena ushulnya saja membolehkan. Masalahnya ustad Asy’ari juga banyak yang kepalanya gatel. Mereka nyeret-nyeret ustad salafi buat ikutan ritme lari mereka. Biasanya dengan bilang “kalau anda pikir A, maka konsekwensi logisnya adalah B”. Padahal maxim Athari itu “bertanya saja nggak boleh. Apalagi jawab”. Itu sudah masuk ranah Iman bil ghoib. Ya imani saja. Lebih dari adalah takalluf (memberatkan diri sendiri). Yang menyimpulkan “jika A maka B” kan anda. Kenapa nyuruh Athari buat membuktikan? Anda yang buat problem, lalu nyuruh orang lain menjawab. Buat Athari mah itu masuk urusan “Iman”. Buat Athari “Jika A maka saya imani”. Selesai disitu. Sialnya, ada saja ustad Athari juga mau jawab. Padahal bid’ah. Hahah.
Faktor utama munculnya debat “Tangan Tuhan”
Awal kemunculan Asyariyah, Mu’tazilah, dan madzhab akidah di awal-awal disebabkan banyak faktor. Tapi salah satu faktor “kenapa ulama dulu membahas permasalahan ini” adalah keberhasilan Islam menaklukan kerajaan Romawi di Syam (Suriah, Mesir, dll). Nah, sebagai pengetahuan, salah satu perdebatan panas di Romawi kristen adalah “bentuk Tuhan” dan seputar ketuhanan Isa. Bagaimana bentuk Tuhan itu? Apakah Isa itu tuhan? Anak tuhan? Nabi? Dll. Perdebatan ini adalah imbas dari keputusan Nicea (di konstantinopel sekitar tahun 325) yang membuat dekrit doktrin krsiten sebagaimana kristen hari ini (doktrin madzhab Saint Paul). Banyak yang nggak terima, tapi kalah secara politik.
Muslim yang berhasil menguasai wilayah itu, akhirnya harus ikut²an perdebatan tersebut. Dan tentunya berpengaruh pada pembentukan konsep akidah Asyairah, Maturidiyah, Athari, dll. Suka tidak suka, ulama harus menjawab permasalahan yang muncul dalam realita. Jawaban² itu, kemudian langgeng hingga sekarang.
Apakah salah ketika ulama menjawab realita yang ada? Tentu tidak. Wajib malah. Itulah gunanya ulama.
Masalahnya (kembali ke masa kita), ada ustad-ustad sekarang bukan sibuk menjawab realitas umat. Tapi sibuk membangkitkan perdebatan lama yang lebih banyak mafsadahnya daripada maslahatnya. Ketika generasi muda terancam atheis dan mayoritas nggak bisa baca Quran, ustadnya saling hina soal tangan Allah. Survey di Indonesia, yang bisa baca Quran saja itu minoritas. Apalagi paham.
Bahkan mungkin setan bingung antara mau membisiki yang lain, atau membiarkan kita berdebat soal tangan tuhan.
Apakah debat Aqidah itu tidak penting? Li kulli maqom maqol. Semua ada tempatnya.
Teman-teman salafi yang terhormat. Marilah disadari bahwa mayoritas Indonesia itu Asy’ari. Anda pendatang. Sopanlah sedikit. Janganlah menyesatkan tuan rumah. Kalaupun beda cukuplah dengan kalimat “saya tidak setuju, tapi kita tetap saudara”.
Teman-teman Asy’ari yang terhormat. Ada tamu baru di Indonesia. Sering-seringlah diajak ngopi. Ngopi bersama lebih ampuh meredakan emosi daripada debat seribu bulan. Ngopi ya, bukan diajak berantem.
Lalu apa akidah Muhammadiyah?
Saya aktif di Muhammadiyah sejak kecil, sekolah di ponpesnya KH Ahmad Dahlan, dan pernah aktif di Muhammadiyah hingga Tarjih Pusat. Dan setau saya Majelis Tarjih Pusat dan Muhamamdiyah sama sekali nggak peduli dengan pedebatan akidah ini. Anda Islam? Ayo bikin amal usaha bareng. Universitas? Ayo. Mau buat kalender Islam dunia? Gasss. Sekolah? Bangun. Ojek online? Siap. Tambang? Sikaaatt…
Hahahah ![]()
Terkesan bercanda, tapi saya serius. Beberapa tahun saya sibuk di Majelis Tarjih Pusat, bahkan pertanyaan ini nggak pernah muncul sekalipun. Ibarat tenaga cuma 100, kita gunakan 100 ini untuk membahas yang menurut kita penting. Dan “Tangan Tuhan” tidak masuk dalam agenda penting. Dan saya bersyukur Muhamamdiyah punya mental seperti itu.














